OBESITAS
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kegemukan
dan obesitas terjadi akibat asupan energi lebih tinggi daripada energi yang dikeluarkan. Asupan energi tinggi disebabkan oleh konsumsi makanan sumber
energi dan lemak tinggi, sedangkan pengeluaran energi yang rendah disebabkan
karena kurangn aktivitas fisik dan sedentary life style.
Masalah kegemukan dan obesitas di Indonesia terjadi pada semua
kelompok umur dan pada semua strata sosial ekonomi. Pada anak sekolah, kejadian
kegemukan dan obesitas merupakan masalah yang serius karena akan berlanjut
hingga usia dewasa. Kegemukan dan obesitas pada anak berisiko berlanjut ke masa
dewasa, dan merupakan faktor risiko terjadinya berbagai penyakit metabolik dan
degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus, kanker,
osteoartritis, dll. Pada anak, kegemukan dan obesitas juga dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan yang sangat merugikan kualitas hidup anak seperti
gangguan pertumbuhan tungkai kaki, gangguan tidur, sleep apnea (henti napas sesaat)
dan gangguan pernafasan lain.
Kegemukan dan obesitas terutama disebabkan
oleh faktor lingkungan. Faktor genetik meskipun diduga juga berperan tetapi
tidak dapat menjelaskan terjadinya peningkatan prevalensi kegemukan dan
obesitas. Pengaruh faktor lingkungan terutama terjadi melalui
ketidakseimbangan antara pola makan, perilaku makan dan aktivitas fisik.
Hal ini terutama berkaitan dengan perubahan gaya hidup yang mengarah pada sedentary
life style.
Pola makan yang merupakan pencetus terjadinya kegemukan dan
obesitas adalah mengkonsumsi makanan porsi besar (melebihi dari kebutuhan),
makanan tinggi energi, tinggi lemak, tinggi karbohidrat sederhana dan rendah
serat. Sedangkan perilaku makan yang salah adalah tindakan memilih makanan
berupa junk food, makanan dalam kemasan dan minuman ringan (soft drink)
Selain pola
makan dan perilaku makan, kurangnya aktivitas fisik juga merupakan faktor
penyebab terjadinya kegemukan dan obesitas pada anak sekolah. Keterbatasan
lapangan untuk bermain dan kurangnya fasilitas untuk beraktivitas fisik
menyebabkan anak memilih untuk bermain di dalam rumah. Selain itu, kemajuan
teknologi berupa alat elektronik seperti video games, playstation,
televisi dan komputer menyebabkan anak malas untuk melakukan aktivitas fisik.
Hasil RISKESDAS tahun 2010 menunjukkan prevalensi
kegemukan dan obesitas pada anak sekolah (6-12 tahun) sebesar 9,2%. Sebelas
propinsi, seperti D.I. Aceh (11,6%), Sumatera Utara (10,5%), Sumatera Selatan
(11,4%), Riau (10,9%), Lampung (11,6%), Kepulauan Riau (9,7%), DKI Jakarta
(12,8%), Jawa Tengah (10,9%), Jawa Timur (12,4%), Sulawesi Tenggara (14,7%),
Papua Barat (14,4%) berada di atas prevalensi nasional.
Hasil penelitian di beberapa kota
menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan prevalensi kegemukan dan obesitas.
Hasil penelitian di Yogyakarta (M. Julia,et al, 2008) menunjukkan adanya
peningkatan prevalensi hampir dua kali lipat dalam waktu lima tahun. Prevalensi
kegemukan dan obesitas pada anak sekolah di Yogyakarta pada tahun 1999 sebesar 8,0%,
meningkat menjadi 12,3% pada tahun.
B.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar
belakang diatas, maka yang menjadi perumusan masalah dalam makalah ini adalah
1.
Apakah riwayat alamiah obesitas?
2.
Bagaimana seseorang itu dikatakan
obesitas?
3.
Bagaimana gejala, penyebab dan cara
pencegahan obesitas?
4.
pengertian obesitas menurut
patofisiologi?
C.
TUJUAN PENULISAN
Untuk mengetahui apa penyakit
obesitas pada masyarakat dan cara penagananya.
BAB II
PEMBAHASAN
Definisi
obesitas menurut kamus Dorland, obesitas adalah peningkatan berat badan melebihi batas kebutuhan skeletal dan fisik sebagai akibat akumulasi lemak
berlebihan dalam tubuh. Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk
menyimpan energy, sebagai penghambat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainya.
Jumlah lemak tubuh antara wanita dan pria tidaklah sama. Rata-rata wanita
memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dari pada pria dan perbandingan yang
normal antara lemak tubuh dan berat badan adalah sekitar 16-28 % pada wanita
dan 12-23% pada pria. Obesitas, bila lemak tubuh lebih dari 30% pada wanita dan
25% pada pria. Pada prinsipnya, pada obesitas ditemukan ketidakseimbangan
antara masukan energy (intake) dan energy yang dikeluarkan, dimana masukan
energy lebih besar dari pada pengeluaranya. Dalam keadaan surplus energy,
kelebihan energy tersebut akan disimpan menjadi lemak dalam sel lemak, sehingga
dengan bertambahnya simpanan lemak tersebut, maka akan bertambah pula berat
badan. Tambahan berat badan yang terus menerus akan menyebabkan tubuh mencapai
kondisi berat badan, kemudian menjadi obesitas. Jadi obesitas terjadi bertahap,
tidak sekaligus.
Over
weight yang menunjukkan suatu keadaan dimana terdapat berat badan yang berlebih. Sesorang dikatakan over weight bila jumlah lemak 10-20% diatas nilai
normal. Over weight tidaklah sama dengan obesitas .
Obesitas
atau biasa orang menyebutnya sebagai kelebihan berat badan secara medis diartikan sebagai kelebihan lemak yang ada didalam tubuh. Seseorang yang
obesitas akan meningkatkan resiko penyakit lain misalnya diabetes dan tekanan
darah tinggih (hipertensi). Para dokter biasanya menggunakan BMI (body mass
index) yang didasarkan pada berat badan serta tinggih badan dalam penentuan
apakah anda mengalami obesitas atau tidak. Obesitas yang berlebihan yang mendekati
angka parah disebut dengan obesitas morbd. Kondisi dimana mempunya BMI diatas 40 bahkan lebih.
Jika anda didalam katagori morbit, maka anda akan mengalami gangguan jantung
yang serius.
1. Penyakit yang diakibatkan karena obesitas
:
Penyakit
yang termasuk dalam kelompok ini adalah diabetes Militus tipe 2/ Hipertensi,
Penyakit kardiovaskular, Dislipidemia, dan sebagainya. Penyakit Degeneratif
yang paling sering menyertai obesitas adalah Diabetes Militus tipe 2,
Hipertensi, dan Hiperkolestrolemia (Disipidemia). Overweight saat ini sudah
menjadi suatu masalah global yang serius. Data yang dikumpulkan dari seluruh
dunia memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan prefalensi overweight dan
obesitas pada 10-15 tahun terakhir dengan angka kejadian terbanyak di Amerika. Saat
ini diperkirakan sebanyak lebih dari 100 juta penduduk dunia menderita
obesitas, dan angka ini akan terus meningkat. Sedangkan kondisi obesitas di
Indonesia adalah menurut data yang diperoleh dari Derektorat Bina Gizi
masyarakat Depkes tahun 1997, sebanyak 12,8% pria dewasa mengalami overwight
dan sebayak 2,5% mangalami obesitas sedangkan pada wanita angka ini menjadi
lebih besar lagi yaitu 20% dan 5,9%.
2. Gejala, penyebab dan pencegahan obesitas
Gejala,
penyebab, pencegahan obesitas dapat dilihat dengan menggunakan kalkulator BMI
kemudian bandingkan hasinya dengan data berikut ini :
BMI
status berat badan :
Dibawah
18,5; kurang 18,5-24.9; normal 25.5-29.5; kelebihan 30,0 dan lebih tinggih
obesitas.
a) Gejala obesitas
Gejala-gejala
yang biasa dialami oleh seseorang yang mengalami obesitas antara lain :
1. Kebiasaan tidur dengan mendengkur.
2. Kebiasaan susah tidur dan nyeri pada
punggung atau sendi.
3. Berhenti nafas pada saat tidur secara
tiba-tiba.
4. Selalu merasakan panas berkeringat secara
berlebihan.
5. Sulit bernafas.
6. Depresi sering merasakan ngantuk dan
lelah.
7. Ruam atau infeksi pada lipatan kulit.
b) Penyebab obesitas
Adanya
pengaruh genetic dan hormone pada berat badan. Hal yang paling mendasar adalah
obesitas akan terjadi jika tubuh menerima lebih banyak atau kelebihan kalori
dari pada membakar kalori. Kalori tersebut akan menumpuk dan menjadi lemak.
Obesitas merupakan hasil kombinasi antara factor-faktor berikut ini :
ü Tidak melakuakan aktifitas fisik sehingga
pembakaran lemak akan menjadi sedikit.
ü Memakan makanan dengan tinggih kalori
terutama makanan cepat saji.
ü Beberapa wanita sulit menurunkan berat
badan setelah melahirkan, hal ini memicu terjadinya oberitas.
ü Kurang tidur.
ü Mengkonsumsi obat-obatan tertentu, seperti
obat diabetes, anti kejang,anti depressants, antipsychotic, steroid dan
betabrockers.
ü Mengalami masalah medis lain.
c) Cara, tips mencegah obesitas
Jika
pada zaman dulu obesitas banyak menyererang pria dewasa dengan usia lanjut,
kini obesitas sudah banyak dialami oleh para remaja bahkan anak-anak dan
balita. Pencegahan overwight dan obesitas terdiri dari 3 tahapan yaitu :
pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer adalah dengan
pendekatan komunitas untuk mempromosikan cara hidup sehat. Usaha pencegahan
dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, dan pusat kesehatan
masyarakat. Pencegahan sekunder bertujuan untuk prefalensi obesitas
sedangkan tersier bertujuan untuk mengurangi obesitas dan komplikasi
penyakit yang ditimbulkanya. Pada dasarnya prinsip dari pencegahan dan
penatalaksanaan overwight dan obesitas adalah menguragi asupan energi serta
meningkatkan keluaran energi, dengan cara pengatauran pola makanan, peningkatan
aktifitas fisik, modifikasi gaya hidup serta dukungan secara mental dan social.
Obesitas
menurut patofisiologi
Beberapa
jalur pengaturan yang berperan dalam pengaturan berat badan masing-masing
diatur oleh hipotalamus. Misalnya, nucleus ventromedial menjadi “pusat
kenyang” hipotalamis lateral menjadi “pusat makan”. Siklus
pengaturan yang mungkin menentukan dalam jangka waktu lama adalah mekanisme
lipostasis massa lemak tubuh diketahui berdasarkan zat yang dihasilkan oleh sel lemak (kemungkinan
leptin) dan jalur umpan balik mempertahankan agar massa lemak selalu konstan
selama terjadi perubahan selera makan dan aktifitas fisik. Jadi, lemak akan
dengan cepat digantikan kembali bila dilakukan pengangkatan lemak selama
operasi.
Lebih
dari 40% obesitas berhubungan dengan peninggakatan resiko mengalami kematian
lebih dini sebesar dua kali lipat. Obesitas sebagian didasari (poli) genetic,
sebagian lagi dipengaruhi lingkungan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa
bila HL rusak atau hancur maka individu menolak untuk makan dan minum, dan akan
mati kecuali bila dipaksa diberi makan dan minum (diberi infus). Sedangakan
bila kerusakan terjadi pada bagian HVM maka seseorang akan menjadi rakus dan
kegemukan.
BAB
III
KESIMPULAN DAN SARAN
Kegemukan dan
obesitas adalah masalah global yang banyak dihadapi oleh berbagai Negara. Kegemukan dan obesitas terjadi akibat asupan energi lebih tinggi
daripada energi yang dikeluarkan. Asupan
energi tinggi disebabkan oleh konsumsi makanan sumber energi dan lemak tinggi,
sedangkan pengeluaran energi yang rendah disebabkan karena kurangnya aktivitas
fisik dan sedentary life style. Ada beberapa factor yang mempengaruhi
obesitas diantaranya adalah factor genetic, lingkungan, hormone, emosi, aktifitas
fisik, dan pola makan. Adapun dampak dari obesitas itu sendiri adalah penyakit
diabetes militus tipe 2, stroke, hipertensi, penyakit kardiovaskuler, dan
dyslipidemia.
Berdasarkan
kesimpulan diatas, ada beberapa saran yang bisa dipergunakan untuk mencegah
peningkatan prevalensi obesitas di masyarakat adalah sebagai berikut :
ü Perlu diberikan pendidikan ilmu gizi dan
kesehatan bagi remaja dan masyarakat tentang manfaat, pemilihan jenis makanan, jumlah dan kwalitas
makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi remaja dan masyarakat dalam
penanggualangan dan pencegahan obesitas.
ü Peranan ahli gizi diperlukan dalam
konsultasi gizi dan penyuluhan masyarakat yang obesitas maupun orangtuanya
melalui progam usaha kesehatan sekolah (UKS) dan Puskesmas, Posyandu.
ü Bagi orang tua dan masyarakat harus
mewaspadai apabila anakanya mengalami obesitas, karena dapat beresiko tinggih
menderita penyakit seperti jantung, diabetes militus dan sebagainya.
DAFTAR
PUSTAKA
Hasdiana;Siyoto Sandu; Pristiowati. 2013. Pemanfatan Gizi, Diet, Dan Obesitas. Nuha Medika. Yogyakarta.
Silbernagi Stefan; Lang Florian; diterjemahkan oleh Setiawan Iwan dan Mochtar Iqbal. 2012. Teks dan Atlas Berwarna Patofisiologi. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.
Medawati Ana; Hadi Hamam; Praman tara. 2005. Hubugan Antara asupan energy, asupan lemak, dan obesitas pada remaja SLTP dikota Yogyakarta. Jurnal Gizi Klinik Indonesia volume 1, no.3, maret 2005:119-129. Progam studi ilmu Gizi Kesehatan fakultas kedokteran Universitas Gadja mada. Yogyakarta.
Kementrian Kesehatan RI.Direktorat jendral Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. 2011. Pedoman pencegahan dan penaggulangan kegemukan dan obesitas pada anak sekolah. Kementrian Kesehatan RI. Jakarta.