Minggu, 20 Desember 2015

jahe instan

Jahe Instan 

produk instan adalah produk pangan tanpa air tetapi mudah ditambahkan air (dingin/panas), mudah larut dan siap disantap. Salah satu contoh produk instan adalah pembuatan jahe instan. 

Jahe Instan adalah jahe yang terbentuk butiran-butiran (serbuk) dan dalam penggunaannya mudah melarutkan dalam air dingin atau air panas. Teknik pengilihan jahe instan  dapat dibedakan menjadi dua metode, yaitu teknik spray drying dan kristalisasi. Spray drying merupakan proses perubahan bahan dari bentuk cair menjadi partikel-partikel kering berupa serbuk atau butiran oleh suatu proses penyemprotan bahan ke dalam medium keringyang panas. Sedangkan kristalisasi adalah proses pembentukan kristal padat dari suatu larutan induk yang homogen. 

 Hasil uji coba pratikum 
Tabel 1. Pembuatan jahe instan
Produk
Berat jahe
Berat awal
Berat gula
Volume air
Berat akhir
Jahe instan
170 g
657 g
590 g
590 cc
533 g

Tabel 2. Uji organoleptik jahe instan

Rasa
Manis, sedikit pedas
Aroma
Manis gula
Warna
Putih tulang
Tekstur
Bubuk lembut

pertama cara pengolahannya adalah dengan memilih jahe yang baik dan besar kemudian mengupas dan menyuci jahe. blander jahe yang sudah dibersihkan dengan air dengan perbandingan jahe dan air (1:3), tujuannya adalah adanya penambahan air ini agar saat proses penghalusan pada jahe prosesnya menjadi lebih mudah. peras dan saring dengan menggunakan kain saring dan ambil sarinya. tambahkan gula dengan perbandingan (1:1), bertujuan agar cairan sari jahe mengental. sari buah diuapkan atau dipanaskan sampai mengental, diaduk-aduk secara terus menerus sampai terlihat busa-busa yang akan membentuk kristal. pemanasan sari jahe dalam keadaan api yang sangat mendidih dan panas, agar cairan jahe cepat matang. setelah mendidih cairan sari jahe tersebut, kemudian lakukan pendinginan dengan cara matikan kompor dengan mengaduk-aduknya sampai dingin sehingga  terbentuknya gumpalan-gumpalan kristalyang kemudian disaring menjadi serbuk jahe, atau melakukan blender agar lebih halus sampai menjadi bubuk halus. kemudian kemas dalam plastik dan jadilah produk instan jahe. 

pada hasil pratikum diatas dapat dilihat bahwasanya ada terdapat penyusutan, dikarenakan adanya proses karamelisasi dan pengentalan. salah satu teknologi alternatif yang digunakan cukup sederhana dan murah yang dapat menhasilkan produk serbuk instan yaitu  kristalisasi. Teknologi ini didasarkan pada pemanfaatan sifat gula pasir (sukrosa) yang dapat kembali membentuk kristal setelah dicairkan. secara umum, mekanismenya adalah sebagai berikut : sukrosa dipanaskan akan mencair dan bercampur dengan bahan lainnya, ketika air menguap akan terbentuk kembali menjadi butiran-butiran padat. sifat sukrosa sangat dipengaruhi oleh pH, jika pH larutan rendah (asam) maka proses kristalisasi tidak akan terbentuk dan larutan menjadi liat, atau orang sunda mengenalnya dengan istilah gula liat. Jadi, semua bahan pangan pada dasarnya dapat dijadikan serbuk instan asalkan larutannya memiliki pH yang tidak asam. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pH optimum yang dapat menghasilkan produk yang baik berkisar 6,7-6,8. Pembuatan serbuk instan dengan metode kristalisasi hanya membutuhkan bahan dan peralatan yang sederhana, seperti gula pasir, air putih bersih, sedangkan alatnya blender, timbangan, wajan, kompor, penyaringan dan pengaduk. Beberapa produk yang menggunakan metode kristalisasi dan sudah banyak dikenal umum adalah jahe instan. Teknologi kristalisasi ini merupakan teknologi tepat guna yang cocok diterapkan di industri kecil dan menengah (UKM) yang memiliki modal yang terbatas. salah satu contoh produk yang sudah dikembangkan adalah sari jahe instan. 
 uji organoleptik 
pada jahe bubuk atau jahe instan ini memiliki rasa manis dan sedikit pedas, aroma khas jehe manis, warna putih tulang dan bentuk bubuk lembut atau seperti serbuk pasir yang lembut.

Kesimpulan :
Untuk praktikum pembuatan jahe instan ini dapat di tarik kesimpulan bahwa :
  1. Jahe yang digunakan mempunyai bobot 170 gram dan setelah di proses menyusut menjadi 533 gram ( dalam bentuk bubuk ).
  2. Gula dalam pembuatan jahe instan ini digunakan sebagai penambah rasa manis dan untuk aromanya khas jahe manis dan tidak ada penambahan kayu manis. 
  3. Penambahan air juga sangat berpengaruh untuk pelarutan jahe agar menjadi bubuk.
  4. Rasa yang di hasilkan masih agak sedikit pedas, untuk rasa manis dan aromanya sudah cukup pas.



Daftar Pustaka:
Dziezak, J.D. 1980. Microencapsulation and Encapsulated Ingredients. Journal of Food Technology. 18 (4) : 138
Health, Vita. 2006. Diet VCO: Panduan Menurunkan Berat Badan dengan Minyak Kelapa Murni. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Prastowo, Bambang. 2007. Booklet Teknologi Unggulan Tanaman Jahe. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Riana. 2012. “Laporan Jahe Instan”. http://rianayetmi14.blogspot.com. Diakses pada tanggal 20 desember 2015 pukul 21:00


Jumat, 16 Oktober 2015

                               


                                            Prinsip Pembuatan Abon




    Pengertian Abon 


         Abon merupakan salah satu jenis makanan yang diawetkan dalam bentuk daging yang disuwir-suwir dengan berbentuk serabut atau dipisahkan dari seratnya berasal dari daging (sapi, kerbau, dan berbagai macam ikan laut) yang ditambahkan denagan bumbu-bumbu yang selanjutnya digoreng.

         Abon sebenarnya merupakan produk daging awet yang sudah lama dikenal masyarakat. pada data BPS dalam Sianturi (2000) menunjukkan bahwa abon merupakan produk nomor empat terbanyak diproduksi. Abon termasuk makanan ringan atau lauk yang siap saji. Produk tersebut sudah dikenal oleh masyarakat umum sejak dulu. Abon dibuat dari daging yang diolah sedemikian rupa sehingga memiliki karakteristik kering, renyah, dan gurih. pada umumnya daging yang digunakan dalam pembuatan abon yaitu dagng sapi atau kerbau.

     Standar Mutu Abon 
      
          Abon sebagai salah satu produk industri pangan yang memiliki standar mutu yang telah ditetapkan oleh Departemen Perindustrian. Penetapan standar mutu merupakan acuan bahwa suatu produk tersebuat memiliki kualitas yang baik dan aman bagi konsumen. Para produsen Abon disarankan membuat produk abon dengan memenuhi Standar Industri Indonesia (SII). Standar SII dapat dilihat pada tabel 2.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi standar mutu abon antara lain : 
       1. Kadar air berpengaruh terhadap daya simpan dan keawetan abon 
       2. Kadar abu menurunkan derajat penerimaan dari konsumen
       3. Kadar protein sebagia petunjuk beberapa jumlah daging/ikan yang digunakan untuk abon.
       4. Kadar lemak berhubungan dengan bahan baku yang digunakan, ada tidaknya menggunakan                minyak goreng dalam penggorengan 
      

Tabel 2.1  Standar Industri Indonesia untuk Abon No 0368-80,0368-85

Komponen
Nilai

Lemak (maksimum)
30%
Gula (maksimum)
30%
Protein
20%
Air (maksimum)
10%
Abu (maksimum)
9%
Aroma, warna dan rasa
Khas
Logam berbahaya  (Cu, Pb, Mg, Zn dan As)
Negatif
Jumlah bakteri (maksimum)
3000/g
Bakteri bentuk koli
Negatif
Jamur 
Negatif


   Sumber : Standar Industri Indonesia 


     Cara Pembuatannya adalah : 

  • Bersihkan daging dari sisa tulang, kemudian cuci hingga bersih 
  • Potong keci daging dengan ukuran 5 cm x 5 cm x 5 cm atau bisa juga lebih besar
  • Panaskan air dalam panci lalu masullan garam, sereh dan daun salam
  • Masukkan daging lalu rebus selama 30-60 menit hingga matang dan empuk
  • Pres atau tiriskan daging yang sudah matang 
  • Tumbuk perlahan daging yang sudah kering, kemudian cabik-cabik dengan garbu 
  • Campurkan bubuk ketumbar, garam, gula pasir dan penyedap rasa dalam daging yang sudah dicabik-cabik, lalu aduk hingga rata
  • Giling bawang merah, bawang putih dan lengkuas hingga halus, lalu campurkan ke dalam daging
  • Aduk campuran daging dengan bumbu hingga rata
  • Tuangkan santan kental ke dalam campuran daging, kemudian aduk hingga rata
  • Panaskan minyak goreng dalam wajan, kemudian masukkan daging yang sudah dibumbuin
  • Goreng abon dengan api kecil sambil diaduk hingga matang. Ciri abon yang matang yaitu timnul suara gemericik jika diremas
  • Tiriskan abon 
  • Masukkan abon yang sudah matang ke dalam alat press. Caranya putar batang pengepres hingga sisa minyak terpisahkan dari abon
  • Pisahkan abon yang menggumpal dengan garpu
  • Campur abon dengan bawang goreng
      




      Daftar Pustaka 

Sumarsono, J, dan H.A Sirajudin. 2008. Penentuan lama sentrifuge minyak abon daging        sapi. Makalah Penunjang Seminar Nasional. Fakultas Pertanian Universitas Mataram,      Mataram
          Nazieb, A. 2009. Food Science and Technology. Universitas Negeri Surakartra, Surakarta.

          Sianturi, R. 2000. Kandungan gizi dan palatabilitas abon daging sapi dengan kacang tanah                        (Arachis hypogeal linn) sebagai bahan pencampur. Skripsi. Fakultas Peternakan.Institut                      Pertanian Bogor, Bogor.
          


       

Rabu, 14 Oktober 2015

yoghurt



yoghurt 

      Susu adalah substansi cair yang disekresikan oleh kelenjar mamae oleh semua mamalia. Bagian utamanya adalah air, lemak, protein, gula dan abu. Susanto (2003) menyatakn susu merupakan sumber kalsium, fosfor, vitamin B, dan protein yang sangat baik. Mutu protein susu setara dengan protein daging dan telur. Protein susu sangat kaya akan lisin, yaitu salah satu asam amino esensial yang sangat dibutuhkan tubuh. Susu sapi segar adalah air susu hasil pemerasan yang tidak dikurangi atau ditambah apapun. Ciri-cirinya adalah berwarna putih kekuning-kuningan, tidak tembus cahaya. Kekuningan karena memiliki kandungan vitamin A yang tinggi (Puspardoyo, 1997). 
     Susu bubuk full krim adalah susu yang dikeringkan hingga sekitar 97% total zat padatnya      (Poter, 1986). Biasanya dalan susu full krim telah ditambahkan berbagai macam vitamin dan mineral. Susu kerbau jauh lebih banyak mengandung lemak susu, lebih tinggi daripada susu sapi (Williamson and Payne, 1993). Susu kerbau banyak dipakai untuk membuat makanan, misalnya yoghurt, es krim dan berbagai jenis keju. Produk-produk olahan susu telah diketahui memegang peran penting dalam makanan manusia di berbagai negara. 
      Denagn tingkat nutrisinya yang tinggi, produk olahan susu dapat dijadikan makanan tambahan walau susu/ olahanya hanya memiliki sekitas 10% konsumsi total protein. Yoghurt adalah salah satu minuman hasil dari fermentasi dengan menggunakan campuran bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophillus yang telah umum dipakai dalam proses pembuatan yoghurt dan merupakan spesies mikroba yang esensial dan aktif dalam hubungan simbiotik. 

     Pada pembuatan yoghurt dilakukan proses fermentasi dengan memanfaatkan bakteri asam laktat misalnya dari golongan Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus themophillus. Stretococcus themophillus berkembang biak lebih cepat dan menghasilkan baik asam maupun CO2 asam dan CO2 yang dihasilkan tersebut kemudian merangsang pertumbuhan dari Lactobacillus bulgaricus. Di sisi lain, aktifitas proteolitik dari Lactobacillus bulgaricus memproduksi peptida penstimulasi dan asam amino untuk dapat dipakai oleh Streptococcus themophilus. Mikroorganisma ini sepenuhnya bertanggung jawab atas pembentukan tekstur dan rasa yoghurt. (Goff, 2003)


 Proses fermentasi menyebabkan kadar laktosa dalm yoghurt berkurang, sehingga yoghurt aman dikonsumsi oleh orang lanjut usia atau yang alergi terhadap susu. Sejumlah ahli menyatakn beberapa manfaat dapat diperoleh dari yoghurt, jika dikonsumsi secara teratur, yaitu :



  •   Dapat menghasilkan zat-zat gizi yang diperlukan oleh hati sehngga berguna untuk mencegah penyakit kangker. 
  • Membantu proses pencernaan di dalam tubuh
  • Memiliki gizi yang lebih tinggi dibandingkan dengan susu segar dan kandungan lemaknya juga lebih rendah, sehngga cocok bagi mereka yang sedang mengalami diet rendah kalori. 
  • Membantu proses penyembuhan lambung yang luka. 
  • Menurukan kadar kolesterol dalam darah 
  • Mengatasi berbagai masalah pencernaan seperti : diare radang usus dan intoleransi laktosa. 
  • Mengurangi resiko penyakit jantung
  • Mengurangi resiko darah tinggi
  • Mencegah osteoporosis, karena yoghurt mengandung Ca dan vitamin 
        Dengan seiring perkembangan zaman terdapat berbagai macam yoghurt tergantung pada metode pembuatanya, yoghurt dapat dikategorikan menjadi : 
  1. Strained, yaitu dibuat dengan cara mengangkat air didih dari susu
  2. Set Yoghurt, teksturnya lembut dan mampu dimasukkan ke boks karton 
  3. Stirred, yaitu yang diaduk dan ditambahkan atau potongan buah. 
        Tekstur dari yoghurt yang dihasilkan apakah yoghurt tersebut berkualitas baik. Yoghurt yang baik memiliki tekstur yang lembut seperti bubur, tidak terlalu encer dan tidak pula tellalu padat (Legowo, 2002), sehingga yoghurt memiliki salah satu manfaat yang sangat baik untuk pencernaan, karena teksturnya yang lembut. Tidak hanya tekstur temperatur memegang peranan penting bagi pertumbuhan bakteri. 
      Dalam pengembangbiakanya dengan cara membelah diri, bakteri memerlukan temperatur dan keadaan lingkungan tertentu sehingga daur hidupnya dapat terus berjalan (Eckles, 1980) bahwa setiap jenis bakteri memiliki suhu optimum untuk perkembangbiakan. 



Daftar Pustaka 

    Nurzainah G, Elsegustri P. Agustus 2005. Jurnal pengaruh temperatur dalam pembuatan yoghurt             dari bergabai jenis susu dengan Lactobacilus Bulgarius dan Streptococcus Thermophilus.                     Jurusan perternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Vol 2, No. 12. 

    Goff, D. 2003. Yoghurt, Diary Science, and Technology. Canada: University of Guelph.

     Legowo, A. M. 13 September 2002. Yoghurt untuk kesehatan. Kompas. 

    Eckler, C.H, W.B. Combs, H. Macy. 1980. Milk and milk products. 4th Edition, 77 Bombay, New         Delhi : Tata McGraw Hill publishing company Ltd. 

    Santoso, A. 2000. Si putri kaya Gizi. Kompas Cyber Media, diakses 9 mei 2003.

    Puspowardoyo, H. 1997. Food Science. New York : Van Nostrand Reinhold Company. 

    Wolliamson, G. dan W. I. A. 1993. pengatur perternakan di Daerah Tropis. Yogyakarta : UGM               press. 



     





Selasa, 01 September 2015

makna makanan dalam islam dari segi nutrisinya sikologinya

    


                            Madu dan kurma menu keseharian Rosulullah SAW. 


   Makanan adalah sesuatu yang menjadi kebutuhan manusia dalam mencukupi nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. makanan sehat didalam Islam sangatlah penting untuk disimak, hal ini meliputi bukan hanya pada persoalan hukum halal atau haram makanan, tetapi kualitas (bobot kandungan gizi) dan efek kesehatan makanan terhadap tubuh. 


Allah berfirman dalm Al-Qur'an surat Al-A'araf ayat 31 : 


يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ 

" Hai anak adam, kenakan pakainmu yang indah disetiap memasuki masjid, makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. "

Hal senada dapat ditemukan di suruh Al- Baqoroh 168 : 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ [٢:١٦٨]

"Hai sekalian manusia makan-makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan jangan kamu mengikuti langkah-langkah syaitan musuh yang nyata bagimu. "


makanan yang mengandung gizi yang kompleks dibutuhkan oleh tubuh agar kondisi tetap fit dan perkembangan lancar. Islam banyak menganjurkan agar ummmatnya mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi. Bahkan bukan hanya itu, esehatan makanan dalam Islam meliputi status atau standar makanan

Dalam menu makanan harian Rosulullah SAW. salah satunya adalah madu. Beliau biasa memimum madu yang dicampur air untuk membersihkan air liur dan pencernaan. Rosulullah SAW. bersabda "hendaknya kalian menggunakan dua macam obat, yaitu madu dan AL-Qur'an " (HR. Ibnu Majah dan Hakim).



Dari segi kesehatan khasiatnya luar biasa, madu berfungsi membersihkan lambung, mengaktifkan usus-usus, menyembuhkan sembelit, wasir, peradangan, serta menyembuhkan luka bakar.
Madu mengandung banyak mineral seperti natrium, kalsium, alumunium, besi, fosfor dan kalium. Madu juga memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi dan rendah lemak. kandungan gula dalam madu mencapai 80% berupa fruktosa dan glukosa. Sehingga madu aman dikonsumsi oleh penderita diabetes. Untuk itu madu adalah makanan yang sangat dianjurkan dalam membantu pengobatan, terutaman dalam pengobatan alternatif seperti yang dianjurkan oleh Rosulullah SAW. dengan madu yang mudah dijangkau oleh setiap kalangan masyarakat serta nilai jualnya lebih berfareasi sesuai dengan jenis madu yang dibeli.


Riset Fisiologi menunjukkan bahwa tubuh manusia membutuhkan berbagai jenis makanan sehat dan bergizi. Dalam Al-Qur'an surat Abasa ayat 27-32 : "lalu kami tumbuhkan biji-bijan di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun, dan pohon kurma, kebun-kebun yang lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. "


Yang selanjutnya selain madu Rosulullah SAW juga tidak makan dua jenis makanan panas atau dua jenis makanan dingin dalam satu waktu atau bersamaan. Beliau juga tidak makan ikan dan daging dalam waktu yang bersamaan dan juga tidak  langsung tidur setelah makan malam, karena tidak baik bagi kesehatan jantung.

kurma dalam kehidupan Rosulullah SAW. 

Tidak jauh berbeda dengan madu, kurma juga banyak memiliki manfaat berserta kandungannya seperti sumber vitamin A, banyak sekali mengandung serat dan dapat mencegah penyerangan kolesterol LDL yang terjadi buah kurma ini banyak sekali terdaji didalam usus, sumber zat besi, mengandung zat anti aksidan yang dikenal sebagai tanin, dan mengandung zat magnesium yang penting dalam pertumbuhan tulang. 


Diatas sudah sedikit dijelaskan sedikit mengenai madu dan kurma yang merupakan contoh kecil dari makanan yang sering dikonsumsi oleh Rosulullah SAW. Dari segi nutrisinya kurma dan madu banyak sekali memiliki manfaat yang sangat berarti bagi tubuh dan juga dalam fase penyembuhan.

Tidak hanya itu ada beberapa kiat yang dilakukan oleh Rosulullah SAW diantaranya adalah pemilihan menu dan tata cara mengkonsumsinya. Setinggi apapun nilai gizi yang didapat dalam mengkonsumsi makanan tanpa adanya pengaturan pola juga dapat berakibat buruk bagi tubuh. Yang paling penting adalah menghindari porsi yang berlebihan. 
Rosulullah SAW : "cukuplah bagi manusia untuk mengkonsumsi beberapa suap makanan saja unatuk menegakkan tulang rusuknya. "

Pada hakikatnya segala sesuatu makanan yang menurut pandangan Islam memiliki prespektif yang baik dalam aturan dan hukum Islam, karena semua sudah diatur dalam Al-Qur'an dan sudah dicontohkan dalam perilaku keseharian Rosulullah SAW. 








Minggu, 30 Agustus 2015

obesitas


                              OBESITAS 



                                                                          BAB I 
                                                                 PENDAHULUAN 

         A.       LATAR BELAKANG

                          Kegemukan dan obesitas terjadi akibat asupan energi lebih tinggi daripada energi yang             dikeluarkan. Asupan energi tinggi disebabkan oleh konsumsi makanan sumber energi dan lemak         tinggi, sedangkan pengeluaran energi yang rendah disebabkan karena kurangn aktivitas fisik dan          sedentary life style.
        Masalah kegemukan dan obesitas di Indonesia terjadi pada semua kelompok umur dan              pada semua strata sosial ekonomi. Pada anak sekolah, kejadian kegemukan dan obesitas                      merupakan masalah yang serius karena akan berlanjut hingga usia dewasa. Kegemukan dan                obesitas pada anak berisiko berlanjut ke masa dewasa, dan merupakan faktor risiko terjadinya              berbagai penyakit metabolik dan degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus,          kanker, osteoartritis, dll. Pada anak, kegemukan dan obesitas juga dapat mengakibatkan                       berbagai masalah kesehatan yang sangat merugikan kualitas hidup anak seperti gangguan                     pertumbuhan tungkai kaki, gangguan tidur, sleep apnea (henti napas sesaat) dan gangguan                   pernafasan lain.
                     Kegemukan dan obesitas terutama disebabkan oleh faktor lingkungan. Faktor genetik meskipun diduga juga berperan tetapi tidak dapat menjelaskan terjadinya peningkatan prevalensi kegemukan dan obesitas. Pengaruh faktor lingkungan terutama terjadi melalui ketidakseimbangan antara pola makan, perilaku makan dan aktivitas fisik. Hal ini terutama berkaitan dengan perubahan gaya hidup yang mengarah pada sedentary life style.
           Pola makan yang merupakan pencetus terjadinya kegemukan dan obesitas adalah                       mengkonsumsi makanan porsi besar (melebihi dari kebutuhan), makanan tinggi energi, tinggi             lemak, tinggi karbohidrat sederhana dan rendah serat. Sedangkan perilaku makan yang salah               adalah tindakan memilih makanan berupa junk food, makanan dalam kemasan dan minuman               ringan (soft drink)
Selain pola makan dan perilaku makan, kurangnya aktivitas fisik juga merupakan faktor penyebab terjadinya kegemukan dan obesitas pada anak sekolah. Keterbatasan lapangan untuk bermain dan kurangnya fasilitas untuk beraktivitas fisik menyebabkan anak memilih untuk bermain di dalam rumah. Selain itu, kemajuan teknologi berupa alat elektronik seperti video games, playstation, televisi dan komputer menyebabkan anak malas untuk melakukan aktivitas fisik.
            Hasil RISKESDAS tahun 2010 menunjukkan prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak sekolah (6-12 tahun) sebesar 9,2%. Sebelas propinsi, seperti D.I. Aceh (11,6%), Sumatera Utara (10,5%), Sumatera Selatan (11,4%), Riau (10,9%), Lampung (11,6%), Kepulauan Riau (9,7%), DKI Jakarta (12,8%), Jawa Tengah (10,9%), Jawa Timur (12,4%), Sulawesi Tenggara (14,7%), Papua Barat (14,4%) berada di atas prevalensi nasional.
            Hasil penelitian di beberapa kota menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan prevalensi kegemukan dan obesitas. Hasil penelitian di Yogyakarta (M. Julia,et al, 2008) menunjukkan adanya peningkatan prevalensi hampir dua kali lipat dalam waktu lima tahun. Prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak sekolah di Yogyakarta pada tahun 1999 sebesar 8,0%, meningkat menjadi 12,3% pada tahun.
B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka yang menjadi perumusan masalah dalam makalah ini adalah
1.      Apakah riwayat alamiah obesitas?
2.      Bagaimana seseorang itu dikatakan obesitas?
3.      Bagaimana gejala, penyebab dan cara pencegahan obesitas?
4.      pengertian obesitas menurut patofisiologi?

C.    TUJUAN PENULISAN
Untuk mengetahui apa penyakit obesitas pada masyarakat dan cara penagananya.


                                                           BAB II
                                                    PEMBAHASAN

           Definisi obesitas menurut kamus Dorland, obesitas adalah peningkatan berat badan                   melebihi batas kebutuhan skeletal dan fisik sebagai akibat akumulasi lemak berlebihan dalam             tubuh. Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energy, sebagai                   penghambat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainya. Jumlah lemak tubuh antara wanita            dan pria tidaklah sama. Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dari pada                pria dan perbandingan yang normal antara lemak tubuh dan berat badan adalah sekitar 16-28              % pada wanita dan 12-23% pada pria. Obesitas, bila lemak tubuh lebih dari 30% pada wanita              dan 25% pada pria. Pada prinsipnya, pada obesitas ditemukan ketidakseimbangan antara                      masukan energy (intake) dan energy yang dikeluarkan, dimana masukan energy lebih besar                  dari pada pengeluaranya. Dalam keadaan surplus energy, kelebihan energy tersebut akan                      disimpan menjadi lemak dalam sel lemak, sehingga dengan bertambahnya simpanan lemak                  tersebut, maka akan bertambah pula berat badan. Tambahan berat badan yang terus menerus               akan menyebabkan tubuh mencapai kondisi berat badan, kemudian menjadi obesitas. Jadi                   obesitas terjadi bertahap, tidak sekaligus.
            Over weight yang menunjukkan suatu keadaan dimana terdapat berat badan yang                   berlebih. Sesorang dikatakan over weight bila jumlah lemak 10-20% diatas nilai normal. Over             weight tidaklah sama dengan obesitas .
            Obesitas atau biasa orang menyebutnya sebagai kelebihan berat badan secara medis              diartikan sebagai kelebihan lemak yang ada didalam tubuh. Seseorang yang obesitas akan                    meningkatkan resiko penyakit lain misalnya diabetes dan tekanan darah tinggih (hipertensi).                Para dokter biasanya menggunakan BMI (body mass index) yang didasarkan pada berat badan            serta tinggih badan dalam penentuan apakah anda mengalami obesitas atau tidak. Obesitas yang         berlebihan yang mendekati angka parah disebut dengan obesitas morbd. Kondisi  dimana                     mempunya BMI diatas 40 bahkan lebih. Jika anda didalam katagori morbit, maka anda akan               mengalami gangguan jantung yang serius.  

1.      Penyakit yang diakibatkan karena obesitas :
Penyakit yang termasuk dalam kelompok ini adalah diabetes Militus tipe 2/ Hipertensi, Penyakit kardiovaskular, Dislipidemia, dan sebagainya. Penyakit Degeneratif yang paling sering menyertai obesitas adalah Diabetes Militus tipe 2, Hipertensi, dan Hiperkolestrolemia (Disipidemia). Overweight saat ini sudah menjadi suatu masalah global yang serius. Data yang dikumpulkan dari seluruh dunia memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan prefalensi overweight dan obesitas pada 10-15 tahun terakhir dengan angka kejadian terbanyak di Amerika. Saat ini diperkirakan sebanyak lebih dari 100 juta penduduk dunia menderita obesitas, dan angka ini akan terus meningkat. Sedangkan kondisi obesitas di Indonesia adalah menurut data yang diperoleh dari Derektorat Bina Gizi masyarakat Depkes tahun 1997, sebanyak 12,8% pria dewasa mengalami overwight dan sebayak 2,5% mangalami obesitas sedangkan pada wanita angka ini menjadi lebih besar lagi yaitu 20% dan 5,9%. 

2.      Gejala, penyebab dan pencegahan obesitas
Gejala, penyebab, pencegahan obesitas dapat dilihat dengan menggunakan kalkulator BMI kemudian bandingkan hasinya dengan data berikut ini :
BMI status berat badan :
Dibawah 18,5; kurang 18,5-24.9; normal 25.5-29.5; kelebihan 30,0 dan lebih tinggih obesitas.
a)      Gejala obesitas
Gejala-gejala yang biasa dialami oleh seseorang yang mengalami obesitas antara lain :
1.      Kebiasaan tidur dengan mendengkur.
2.      Kebiasaan susah tidur dan nyeri pada punggung atau sendi.
3.      Berhenti nafas pada saat tidur secara tiba-tiba.
4.      Selalu merasakan panas berkeringat secara berlebihan.
5.      Sulit bernafas.
6.      Depresi sering merasakan ngantuk dan lelah.
7.      Ruam atau infeksi pada lipatan kulit.
b)      Penyebab obesitas
Adanya pengaruh genetic dan hormone pada berat badan. Hal yang paling mendasar adalah obesitas akan terjadi jika tubuh menerima lebih banyak atau kelebihan kalori dari pada membakar kalori. Kalori tersebut akan menumpuk dan menjadi lemak. Obesitas merupakan hasil kombinasi antara factor-faktor berikut ini :
ü  Tidak melakuakan aktifitas fisik sehingga pembakaran lemak akan menjadi sedikit.
ü  Memakan makanan dengan tinggih kalori terutama makanan cepat saji.
ü  Beberapa wanita sulit menurunkan berat badan setelah melahirkan, hal ini memicu terjadinya oberitas.
ü  Kurang tidur.
ü  Mengkonsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat diabetes, anti kejang,anti depressants, antipsychotic, steroid dan betabrockers.
ü  Mengalami masalah medis lain.

c)      Cara, tips mencegah obesitas
Jika pada zaman dulu obesitas banyak menyererang pria dewasa dengan usia lanjut, kini obesitas sudah banyak dialami oleh para remaja bahkan anak-anak dan balita. Pencegahan overwight dan obesitas terdiri dari 3 tahapan yaitu : pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer adalah dengan pendekatan komunitas untuk mempromosikan cara hidup sehat. Usaha pencegahan dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, dan pusat kesehatan masyarakat. Pencegahan sekunder bertujuan untuk prefalensi obesitas sedangkan tersier bertujuan untuk mengurangi obesitas dan komplikasi penyakit yang ditimbulkanya. Pada dasarnya prinsip dari pencegahan dan penatalaksanaan overwight dan obesitas adalah menguragi asupan energi serta meningkatkan keluaran energi, dengan cara pengatauran pola makanan, peningkatan aktifitas fisik, modifikasi gaya hidup serta dukungan secara mental dan social.

Obesitas menurut patofisiologi
Beberapa jalur pengaturan yang berperan dalam pengaturan berat badan masing-masing diatur oleh hipotalamus. Misalnya, nucleus ventromedial menjadi “pusat kenyang” hipotalamis lateral menjadi “pusat makan”. Siklus pengaturan yang mungkin menentukan dalam jangka waktu lama adalah mekanisme lipostasis massa lemak tubuh diketahui berdasarkan zat yang dihasilkan oleh sel lemak (kemungkinan leptin) dan jalur umpan balik mempertahankan agar massa lemak selalu konstan selama terjadi perubahan selera makan dan aktifitas fisik. Jadi, lemak akan dengan cepat digantikan kembali bila dilakukan pengangkatan lemak selama operasi.
Lebih dari 40% obesitas berhubungan dengan peninggakatan resiko mengalami kematian lebih dini sebesar dua kali lipat. Obesitas sebagian didasari (poli) genetic, sebagian lagi dipengaruhi lingkungan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa bila HL rusak atau hancur maka individu menolak untuk makan dan minum, dan akan mati kecuali bila dipaksa diberi makan dan minum (diberi infus). Sedangakan bila kerusakan terjadi pada bagian HVM maka seseorang akan menjadi rakus dan kegemukan.
     


                                                                           BAB III
                                                          KESIMPULAN  DAN SARAN

Kegemukan dan obesitas adalah masalah global yang banyak dihadapi oleh berbagai Negara. Kegemukan dan obesitas terjadi akibat asupan energi lebih tinggi daripada energi yang dikeluarkan. Asupan energi tinggi disebabkan oleh konsumsi makanan sumber energi dan lemak tinggi, sedangkan pengeluaran energi yang rendah disebabkan karena kurangnya aktivitas fisik dan sedentary life style. Ada beberapa factor yang mempengaruhi obesitas diantaranya adalah factor genetic, lingkungan, hormone, emosi, aktifitas fisik, dan pola makan. Adapun dampak dari obesitas itu sendiri adalah penyakit diabetes militus tipe 2, stroke, hipertensi, penyakit kardiovaskuler, dan dyslipidemia.
Berdasarkan kesimpulan diatas, ada beberapa saran yang bisa dipergunakan untuk mencegah peningkatan prevalensi obesitas di masyarakat adalah sebagai berikut :
ü  Perlu diberikan pendidikan ilmu gizi dan kesehatan bagi remaja dan masyarakat tentang manfaat, pemilihan jenis makanan, jumlah dan kwalitas makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi remaja dan masyarakat dalam penanggualangan dan pencegahan obesitas.
ü  Peranan ahli gizi diperlukan dalam konsultasi gizi dan penyuluhan masyarakat yang obesitas maupun orangtuanya melalui progam usaha kesehatan sekolah (UKS) dan Puskesmas, Posyandu.
ü  Bagi orang tua dan masyarakat harus mewaspadai apabila anakanya mengalami obesitas, karena dapat beresiko tinggih menderita penyakit seperti jantung, diabetes militus dan sebagainya.



DAFTAR PUSTAKA
                                                                                                                                                      Hasdiana;Siyoto Sandu; Pristiowati. 2013. Pemanfatan Gizi, Diet, Dan Obesitas. Nuha Medika. Yogyakarta.
Silbernagi Stefan; Lang Florian; diterjemahkan oleh Setiawan Iwan dan Mochtar Iqbal. 2012. Teks dan Atlas Berwarna Patofisiologi. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.
Medawati Ana; Hadi Hamam; Praman tara. 2005. Hubugan Antara asupan energy, asupan lemak, dan obesitas pada remaja SLTP  dikota Yogyakarta. Jurnal Gizi Klinik Indonesia volume 1, no.3, maret 2005:119-129. Progam studi ilmu Gizi Kesehatan fakultas kedokteran Universitas Gadja mada. Yogyakarta.

Kementrian Kesehatan RI.Direktorat jendral Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. 2011.  Pedoman pencegahan dan penaggulangan kegemukan dan obesitas pada anak sekolah. Kementrian Kesehatan RI. Jakarta.